BANTEN (JRN) – Empat hari terakhir Senayan bergemuruh. Jalanan dipenuhi mahasiswa, spanduk berkibar, orasi menggema, dan aparat berlapis mengawal. Namun di tengah hiruk-pikuk perlawanan rakyat itu, sebuah tragedi memukul nurani bangsa: Affan Kurniawan, pengemudi ojek online, tewas terlindas mobil aparat saat kericuhan pecah.
Affan bukan aktivis, bukan politisi, bukan pula pencari panggung. Ia hanya anak muda sederhana yang bekerja demi keluarganya. Namun ia pulang dalam keadaan terbujur kaku. “Kita semua berduka. Tragedi ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas. Ini tanda ada yang salah dalam cara negara menjaga rakyatnya. Nyawa orang kecil selalu jadi tumbal di tengah pertarungan elit,” tegas H. Pujiyanto, Aktivis Muda Banten, Putra Goib, dalam keterangannya.
Menurut Pujiyanto, arah pergerakan mahasiswa hari ini harus jelas: DPR RI. “Parlemen adalah rumah rakyat. Kalau rakyat marah, pintu pertama yang harus diketuk adalah DPR. Karena di sanalah semua keputusan politik lahir. Kalau mereka tuli, kalau mereka pura-pura tak dengar, maka rakyat berhak mengetuk lebih keras,” ujarnya lantang.
Waspada Penunggang, Jaga Kemurnian Gerakan
Ia mengingatkan, setiap gelombang besar selalu ada tangan-tangan kotor yang mencoba menunggangi. “Ada elit yang melihat darah mahasiswa sebagai tiket menuju kursi, ada kelompok yang meniup api bukan untuk menerangi, tapi untuk membakar persatuan. Jangan biarkan gerakan ini dipelintir jadi panggung politik murahan,” katanya.
Pujiyanto menilai tanda-tanda itu sudah terlihat: munculnya spanduk-spanduk baru, orasi yang provokatif, hingga narasi manis di media sosial. “Tujuannya bukan membela rakyat, tapi memanfaatkan rakyat untuk meraih kekuasaan,” tegasnya.
Pujiyanto menekankan, persatuan mahasiswa dan rakyat adalah mimpi buruk bagi elit. “Mereka bisa punya uang, senjata, bahkan media. Tapi selama mahasiswa dan rakyat bersatu, mereka tak bisa mengalahkan kita. Persatuan hanya bisa dijaga kalau arah perjuangan tetap pada tujuannya: menegakkan keadilan, melindungi rakyat kecil, memastikan negara berpihak pada bangsa, bukan pada segelintir orang,” ujarnya.
Tragedi Affan, Titik Balik Gerakan
Bagi Pujiyanto, kematian Affan tidak boleh berhenti sebagai berita seminggu. Ia harus jadi titik balik. “Aparat hanyalah tangan. Kepala dari semua ini ada di parlemen. Kalau DPR benar bekerja, kalau mereka serius mengawasi, tragedi seperti ini tidak akan pernah terjadi,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Pujiyanto menutup dengan seruan keras: “Saya tidak rela mahasiswa idealis diperalat. Saya tidak rela rakyat kecil jadi korban permainan elit. Gerakan ini harus terus bergerak, terus kawal, dan diarahkan pada sasaran yang tepat. DPR harus mendengar rakyat, atau rakyat akan mengetuk pintu mereka lebih keras,” (Red).